KARYA TULIS ILMIAH
BAHASA INDONESIA
PERAYAAN PERINGATAN MAULID NABI
MUHAMMAD SAW DI MASYARAKAT
Disusun
Oleh:
Tiara
Kasih (1911330035)
Dosen
Pengampuh:
Hendri
Firmansyah, M.Pd
PRODI MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS USHULUDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
BENGKULU
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah swt atas
segala perkenanaannya sehingga penyusunan karya tulis ilmiah ini dapat di
selesaikan dengan baik. Karya tulis ilmiah ini di susun guna untuk memenuhi
tugas mata kuliah bahasa indonesia.
Karya tulis ilmiah ini merupakan laporan
yang di buat sebagai bagian memenuhi kriteria mata kuliah.salam dan sholawat
tidak lupa saya kirimkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW.
Penulis mengharapkan semoga karya tulis
ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca,baik di kalangan mahasiswa maupun di
kalangan masyarakat nanti nya yang di ajukan sebagai bahan diskusi pada tatap
muka perkuliahan
Penulis menyadari bahwa dalam peroses
penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan, oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak guna untuk menyempurnakan karya
tulis ilmiah ini dan pada akhirnya bias bermanfaat bagi semua pebaca.
Bengkulu, Desember
2019
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB
l. PENDAHULUAN
A.Latar belakang
B.Rumusan masalah
C.Tujuan
BAB
ll PEMBAHASAN
A.
pengertian maulid nabi Muhammad saw
B.
sejarah munculnya maulid nabi muhammad saw
C.
beberapa bentuk peringatan maulid yang sering dilaksanakan masyarakatD.pengaru
maulid nabi bagi masyarakat
BAB
III PENUTUP
A.
kesimpulan
B.
saran
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi
Muhammad SAW pada mulanya diperingati untuk membangkitkan semangat umat Islam.
Sebab waktu itu umat Islam sedang berjuang keras mempertahankan diri dari
serangan tentara salib Eropa, yakni dari Prancis, Jerman, dan Inggris. Kita
mengenal musim itu sebagai Perang Salib atau The Crusade.Pada tahun
1099 M tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjidil
Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan dan
persaudaraan ukhuwah. Secara politis memang umat Islam terpecah-belah dalam
banyak kerajaan dan kesultanan. Meskipun ada satu khalifah tetap satu dari
Dinasti Bani Abbas di kota Baghdad sana, namun hanya sebagai lambang persatuan
spiritual.
Seiring dengan perjalanan waktu perayaan
maulid Nabi Muhammad SAW berkembang dengan pesat di berbagai wilayah islam
dengan berbagai macam variasi maupun versi. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW
pertama kali masuk ke Indonesia malalui tangan para Wali Songo sebagai media
dakwah dan penyebaraan ajaran islam di pulau jawa dan terus berkembang pesat ke
seluruh wilayah indonesia.
Ada banyak versi perayaan maulid Nabi
Muhammad SAW di wilayah Indonesia diantaranya ada yang merayakannya dengan
berzikir bersama di mesjid, memberikan sedekah membaca
Barzanji atau Diba’ (kitab sejenis Barzanji), tahlilan, membaca kalam wahyu,
doa bersama dan sebagainya.
B.
Rumusan Masalah
1. Apakah maulid itu?
2. Bagaimana sejarah
munculnya maulid Nabi Muhammad SAW ?
3. Apa sajakah bentuk
perayaan maulid tersebut ?
4. Bagaimana pengaruh
perayaan maulid terhadap masyarakat ?
C.
TUJUAN PENULISAN
1.memenuhi tugas bahasa
indonesia
2.sebagai pembekalan
materi pembelajaran
3.untuk mengetahui
bentuk perayaan maulid nabi Muhammad saw
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Maulid Nabi Muhammad SAW
Maulid ditinjau secara bahasa yaitu walada
yulida maulidan berarti tempat atau waktu Dilahirkannya seseoarng. Oleh karena
itu, tempat kelahiran nabi Muhammad SAW di mekkah sedangkan waktu maulid beliau
adalah pada hari senin bulan Rabiul Awal tahun Gajah 53 SH yang bertepatan pada tanggal 20 April
571 M.
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
merupakan sebuah tradisi masyarakat untuk mengenang kelahiran manusia yang
paling agung di muka bumi dan sebagai bentuk kecintaan kepada
Rasulullah.
Dilaksanakan pada tanggal 12 rabiul awal setiap tahunnya oleh
ribuan bahkan jutaan umat muslim di seluruh penjuru dunia.[1]
B. Sejarah
Munculnya Maulid Nabi Muhammad SAW
Bulan Rabi’ul Awwal dikenang oleh kaum muslimin sebagai
bulan maulid Nabi, karena pada bulan itulah, tepatnya pada hari senin tanggal
12, junjungan kita nabi besar Muhammad SAW dilahirkan menurut pendapat jumhur
ulama. Mayoritas kaum muslimin pun beramai-ramai memperingatinya karena
terdorong rasa mahabbah (kecintaan) kepada beliau , dengan suatu keyakinan
bahwa ini adalah bagian dari hari raya Islam, bahkan dikategorikan sebagai amal
ibadah mulia yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.
Al Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang pertama kali
mengadakan peringatan maulid Nabi adalah para raja kerajaan Fathimiyyah -Al
‘Ubaidiyyah yang dinasabkan kepada
‘Ubaidillah
bin Maimun Al Qaddah Al Yahudi- mereka berkuasa di Mesir sejak tahun 357 H
hingga 567 H. Para raja Fathimiyyah ini beragama Syi’ah Isma’iliyyah
Rafidhiyyah. dan Demikian pula yang dinyatakan
oleh Al Miqrizi dalam kitabnya.. Adapun Asy Syaikh Ali Mahfuzh maka beliau
berkata: “Di antara pakar sejarah ada yang menilai,
bahwa yang pertama kali
mengadakan peringatan maulid Nabi ialah para raja kerajaan Fathimiyyah di Kairo, pada abad ke-4 H. Mereka
menyelenggarakan enam perayaan maulid, yaitu maulid Nabi , maulid Imam Ali ra,
maulid Sayyidah Fathimah Az Zahra,
maulid Al Hasan dan Al
Husain, dan maulid raja yang sedang berkuasa. Perayaan-perayaan tersebut terus
berlangsung dengan berbagai modelnya, hingga akhirnya dilarang pada masa Raja Al Afdhal bin Amirul
Juyusy. Namun kemudian dihidupkan kembali pada masa Al Hakim bin Amrullah pada tahun 524 H, setelah hampir dilupakan orang.
Dari sebagian pendapat lain menyatakan bahwa perayaan Maulid nabi Muhammad
SAW pertama kali diselenggarakan oleh Abu Said al Qakburi seoarang Gebernur di
Irak., pada masa pemerintahan Salahuddin Al Ayyubi
Dan juga ada sebagian pakar sejarah berpendapat bahwa yang mengadakan
perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW untuk pertama kali adalah Sultan Shalahuddin
Al Ayyubi, seoarang pendiri Dinasti Bani Ayyub yang memerintah pada tahun
1174-1193 M atau 570- 590 H berpusat di daerah Mesir. Ketika Shaluddin
memerintah, dia melihat bahwa semangat kaum muslimin untuk berjuang membela
agama Islam sudah mulai pudar, sehingga untuk menghidupkannya kembali, beliau
berinisiatif untuk merayakan hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal
kalender Hijiriah yang stiap tahunnya berlalu begitu saja.
Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari khalifah di Baghdad yakni
An-Nashir, ternyata khalifah setuju. Maka pada musim ibadah haji bulan
Dzulhijjah 579 H (1183 Masehi), Salahuddin sebagai penguasa haramain (dua tanah
suci, Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji,
agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera menyosialkan kepada
masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 M)
tanggal 12 Rabiul-Awal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dengan berbagai
kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.
Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan
Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan
sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa
yang seindah mungkin. Menurut penulis yang pertama
kali yang mengadakan maulid Nabi untuk pertama kali adalah Shalahuddin Al
Ayyubi, didasarkan adanya bukti sejarah yang konkrit dan jelas. Sedangkan
pendapat yang lain kurangnya bukti sejarah yang disebutkan dan lemahnya
pendapat terhadap siapa yang pertama kali mengadakan maulid Nabi[2].
C. Beberapa
Bentuk Peringatan Maulid Yang Sering Dilaksanakan
1. Pembacaan kalam wahyu Ilahi
Surat atau ayat yang dibacakan tergantung kepada pembaca (qari’)
maupun keinginan pelaksana acara, ayat.Pembacaannya dilaksanakan dengan hukum
tajwid yang benar.Selain membaca dengan tartil, Qari’ yang dipilih biasanya
memiliki suara yang merdu, sehingga bagi jamaah atau orang yang mendengarkan dapat
mengkhayatinya. Setelah itu apa yang di bacakan oleh Qari’ bisa diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia dengan gaya bacaan deklamasi.
2. Tahlilan
Tahlilan adalah seperangkat kalimat thayyibah, surat-surat pendek dari
Alquran, maupun kalimat-kalimat lain rumusan ulama yang keseluruhannya dibaca
secara berjamaah, acara tahlilan biasanya diakhiri dengan makan bersama.
3. Doa bersama
Doa biasanya dipimpin oleh seorang ulama
maupun ustadz, materi doa yang berisi hal-hal yang cukup komprehensif dalam
lingkup kehidupan, yang hampir tidak pernah ditinggalkan adalah permohonan
ampunan kepada Allah, syafaat Rasulullah, dan hasanah dunia-akhirat.
4. Ceramah keagamaan
Penceramah biasanya adalah ustadz ataupun
tokoh masyarakat yang terkenal keluasan ilmu pengetahuan tentang agama.Biasanya
ceramah dilaksanakan di dalam mesjid atau musholla yang luas, kadang jika
keadaan tidak memungkinkan ceramah juga dilaksanakan di tempat terbuka seperti
lapangan yang sudah diberi alas maupun tenda seadanya.
D. Pengaruh
Maulid Nabi Bagi Masyarakat
Pengaruh Maulid Nabi begitu besar salah
satunya dapat membuat generasi muda lebih mengenal kepribadian Rasulullah SAW,
perjuangan beliau yang penuh pelajaran untuk dipetik, dan misi yang diemban
beliau dari Allah SWT kepada alam semesta. Para sahabat kerap menceritakan
pribadi Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan. Salah satu contoh, perkataan
Sa’d bin Abi Waqash radhiyallahu anhu, “Kami selalu mengingatkan anak-anak kami
tentang peperangan yang dilakukan Rasulullah SAW, sebagaimana kami menuntun
mereka menghafal satu surat dalam Al-Quran.”Ungkapan ini menjelaskan bahwa para
sahabat sering menceritakan
apa yang terjadi dalam perang Badar, Uhud dan lainnya, kepada anak-anak mereka,
termasuk peristiwa saat perang Khandaq dan Bai’atur Ridhwan.
Maulid Nabi juga ebagai sarana umat Islam
untuk berkumpul dan saling menjalin silaturahim. Masyarakat yang tadinya tidak kenal bisa jadi
saling kenal; yang tadinya jauh bisa menjadi dekat. Kita pun akan lebih
mengenal Nabi dengan membaca Maulid, dan tentunya berkat beliau kita juga akan lebih dekat kepada Allah SWT[3].
E. Pengaruh
Maulid Nabi Bagi Masyarakat
Pengaruh Maulid Nabi begitu besar salah
satunya dapat membuat generasi muda lebih mengenal kepribadian Rasulullah SAW,
perjuangan beliau yang penuh pelajaran untuk dipetik, dan misi yang diemban
beliau dari Allah SWT kepada alam semesta. Para sahabat kerap menceritakan
pribadi Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan. Salah satu contoh, perkataan
Sa’d bin Abi Waqash radhiyallahu anhu, “Kami selalu mengingatkan anak-anak kami
tentang peperangan yang dilakukan Rasulullah SAW, sebagaimana kami menuntun
mereka menghafal satu surat dalam Al-Quran.”Ungkapan ini menjelaskan bahwa para
sahabat sering menceritakan
apa yang terjadi dalam perang Badar, Uhud dan lainnya, kepada anak-anak mereka,
termasuk peristiwa saat perang Khandaq dan Bai’atur Ridhwan.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Maulid Nabi Muhammad SAW pada awalnya
diselenggarakan untuk meningkatkan semangat juang para muslimin dan juga untuk
meningktkan keimanan dan kecintaan muslim kepada nabi Muhammad SAW.
Seiring dengan perkembangan zaman dan masa perayaan Maulid Nabi Muhammad
SAW telah banyak mengalami perubahan. Dikarenakan dakwah islam telah meluas dan
adanya adat dan istiadat yang memepengaruhi
perayaan tersebut. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan suatu
perbuatan yang baik selagi
tidak bertentangan dengan syariat dan aqidah.
B.
Saran
Penulisan karya ilmiah ini masih banyak
kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna. Penulis berharap dengan adanya
pengetahuan mengenai Maulid Nabi Muhammad SAW agar umat islam tidak terpecah
belah dan saling memusuhi antara satu sama lainnya, karena perbedaan dalam
suatu masalah itu fitrah. Dengan adanya perbedaan tersebut kita bisa lebih
toleransi dan juga bisa meningkatkan silaturrahmi antar sesama umat islam.
DAFTAR PUSTAKA
Al jaziri, Abu Bakar. 2002. Ensiklopedi
Muslim. Jakarta: Darul Fatah
Daradjat, Zakiah. 1999. Dasar-Dasar Agama
Islam. Jakarta: Universitas Terbuka
Daud, Ma’mun. (terj). 1993. Terjemahan Hadis
Sahib Bukhari. Jakarta : Widjaya
Osman, A. Latif. 2001.Ringkasan Sejarah Islam.
Jakarta:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar