Selasa, 24 Desember 2019


  KARYA TULIS ILMIAH
BAHASA INDONESIA
PERAYAAN PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW DI MASYARAKAT


Disusun Oleh:
Tiara Kasih  (1911330035)

Dosen Pengampuh:
Hendri Firmansyah, M.Pd  

PRODI MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS USHULUDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU
                                                                          2019                 

KATA PENGANTAR
     Puji syukur atas kehadirat Allah swt atas segala perkenanaannya sehingga penyusunan karya tulis ilmiah ini dapat di selesaikan dengan baik. Karya tulis ilmiah ini di susun guna untuk memenuhi tugas mata kuliah bahasa indonesia.
     Karya tulis ilmiah ini merupakan laporan yang di buat sebagai bagian memenuhi kriteria mata kuliah.salam dan sholawat tidak lupa saya kirimkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW.
     Penulis mengharapkan semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca,baik di kalangan mahasiswa maupun di kalangan masyarakat nanti nya yang di ajukan sebagai bahan diskusi pada tatap muka perkuliahan
     Penulis menyadari bahwa dalam peroses penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak guna untuk menyempurnakan karya tulis ilmiah ini dan pada akhirnya bias bermanfaat bagi semua pebaca.

Bengkulu,    Desember  2019


Penulis







DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB l. PENDAHULUAN
 A.Latar belakang
B.Rumusan masalah
C.Tujuan
BAB ll  PEMBAHASAN
A. pengertian maulid nabi Muhammad saw
B. sejarah munculnya maulid nabi muhammad saw
C. beberapa bentuk peringatan maulid yang sering dilaksanakan masyarakatD.pengaru maulid nabi bagi masyarakat
BAB III PENUTUP
A. kesimpulan
B. saran
DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada mulanya diperingati untuk membangkitkan semangat umat Islam. Sebab waktu itu umat Islam sedang berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara salib Eropa, yakni dari Prancis, Jerman, dan Inggris. Kita mengenal musim itu sebagai Perang Salib atau The Crusade.Pada tahun 1099 M tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan dan persaudaraan ukhuwah. Secara politis memang umat Islam terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan. Meskipun ada satu khalifah tetap satu dari Dinasti Bani Abbas di kota Baghdad sana, namun hanya sebagai lambang persatuan spiritual.
Seiring dengan perjalanan waktu perayaan maulid Nabi Muhammad SAW berkembang dengan pesat di berbagai wilayah islam dengan berbagai macam variasi maupun versi. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali masuk ke Indonesia malalui tangan para Wali Songo sebagai media dakwah dan penyebaraan ajaran islam di pulau jawa dan terus berkembang pesat ke seluruh wilayah indonesia.
Ada banyak versi perayaan maulid Nabi Muhammad SAW di wilayah Indonesia diantaranya ada yang merayakannya dengan berzikir bersama di mesjid, memberikan sedekah membaca Barzanji atau Diba’ (kitab sejenis Barzanji), tahlilan, membaca kalam wahyu, doa bersama dan sebagainya.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah maulid itu?
2. Bagaimana sejarah munculnya maulid Nabi Muhammad SAW ?
3. Apa sajakah bentuk perayaan maulid tersebut ?
4. Bagaimana pengaruh perayaan maulid terhadap masyarakat ?

C. TUJUAN PENULISAN
1.memenuhi tugas bahasa indonesia
2.sebagai pembekalan materi pembelajaran
3.untuk mengetahui bentuk perayaan maulid nabi Muhammad saw


BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Maulid Nabi Muhammad SAW
Maulid ditinjau secara bahasa yaitu walada yulida maulidan berarti tempat atau waktu Dilahirkannya seseoarng. Oleh karena itu, tempat kelahiran nabi Muhammad SAW di mekkah sedangkan waktu maulid beliau adalah pada hari senin bulan Rabiul Awal tahun Gajah 53 SH yang bertepatan pada tanggal 20 April 571 M.
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. merupakan sebuah tradisi masyarakat untuk mengenang kelahiran manusia yang paling agung di muka bumi dan sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah. Dilaksanakan  pada  tanggal  12  rabiul  awal  setiap  tahunnya  oleh ribuan bahkan jutaan umat muslim di seluruh penjuru dunia.[1]

B.      Sejarah Munculnya Maulid Nabi Muhammad SAW
Bulan Rabi’ul Awwal dikenang oleh kaum muslimin sebagai bulan maulid Nabi, karena pada bulan itulah, tepatnya pada hari senin tanggal 12, junjungan kita nabi besar Muhammad SAW dilahirkan menurut pendapat jumhur ulama. Mayoritas kaum muslimin pun beramai-ramai memperingatinya karena terdorong rasa mahabbah (kecintaan) kepada beliau , dengan suatu keyakinan bahwa ini adalah bagian dari hari raya Islam, bahkan dikategorikan sebagai amal ibadah mulia yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.
Al Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang pertama kali mengadakan peringatan maulid Nabi adalah para raja kerajaan Fathimiyyah -Al ‘Ubaidiyyah yang dinasabkan kepada
‘Ubaidillah bin Maimun Al Qaddah Al Yahudi- mereka berkuasa di Mesir sejak tahun 357 H hingga 567 H. Para raja Fathimiyyah ini beragama Syi’ah Isma’iliyyah Rafidhiyyah. dan Demikian pula yang dinyatakan oleh Al Miqrizi dalam kitabnya.. Adapun Asy Syaikh Ali Mahfuzh maka beliau berkata: “Di antara pakar sejarah ada yang menilai, bahwa yang pertama kali mengadakan peringatan maulid Nabi ialah para raja kerajaan Fathimiyyah di Kairo, pada abad ke-4 H. Mereka menyelenggarakan enam perayaan maulid, yaitu maulid Nabi , maulid Imam Ali ra, maulid Sayyidah Fathimah Az Zahra, maulid Al Hasan dan Al Husain, dan maulid raja yang sedang berkuasa. Perayaan-perayaan tersebut terus berlangsung dengan berbagai modelnya, hingga akhirnya dilarang pada masa Raja Al Afdhal bin Amirul Juyusy. Namun kemudian dihidupkan kembali pada masa Al Hakim bin Amrullah pada tahun 524 H, setelah hampir dilupakan orang.
Dari sebagian pendapat lain menyatakan bahwa perayaan Maulid nabi Muhammad SAW pertama kali diselenggarakan oleh Abu Said al Qakburi seoarang Gebernur di Irak., pada masa pemerintahan Salahuddin Al Ayyubi
Dan juga ada sebagian pakar sejarah berpendapat bahwa yang mengadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW untuk pertama kali adalah Sultan Shalahuddin Al Ayyubi, seoarang pendiri Dinasti Bani Ayyub yang memerintah pada tahun 1174-1193 M atau 570- 590 H berpusat di daerah Mesir. Ketika Shaluddin memerintah, dia melihat bahwa semangat kaum muslimin untuk berjuang membela agama Islam sudah mulai pudar, sehingga untuk menghidupkannya kembali, beliau berinisiatif untuk merayakan hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal kalender Hijiriah yang stiap tahunnya berlalu begitu saja.
Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari khalifah di Baghdad yakni An-Nashir, ternyata khalifah setuju. Maka pada musim ibadah haji bulan Dzulhijjah 579 H (1183 Masehi), Salahuddin sebagai penguasa haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera menyosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 M) tanggal 12 Rabiul-Awal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.
Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Menurut penulis yang pertama kali yang mengadakan maulid Nabi untuk pertama kali adalah Shalahuddin Al Ayyubi, didasarkan adanya bukti sejarah yang konkrit dan jelas. Sedangkan pendapat yang lain kurangnya bukti sejarah yang disebutkan dan lemahnya pendapat terhadap siapa yang pertama kali mengadakan maulid Nabi[2].
                       
C. Beberapa Bentuk Peringatan Maulid Yang Sering Dilaksanakan
1.  Pembacaan kalam wahyu Ilahi
Surat atau ayat yang dibacakan tergantung kepada pembaca (qari’) maupun keinginan pelaksana acara, ayat.Pembacaannya dilaksanakan dengan hukum tajwid yang benar.Selain membaca dengan tartil, Qari’ yang dipilih biasanya memiliki suara yang merdu, sehingga bagi jamaah atau orang yang mendengarkan dapat mengkhayatinya. Setelah itu apa yang di bacakan oleh Qari’ bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan gaya bacaan deklamasi.
2.  Tahlilan
 Tahlilan adalah seperangkat kalimat thayyibah, surat-surat pendek dari Alquran, maupun kalimat-kalimat lain rumusan ulama yang keseluruhannya dibaca secara berjamaah, acara tahlilan biasanya diakhiri dengan makan bersama.
3.  Doa bersama
Doa biasanya dipimpin oleh seorang ulama maupun ustadz, materi doa yang berisi hal-hal yang cukup komprehensif dalam lingkup kehidupan, yang hampir tidak pernah ditinggalkan adalah permohonan ampunan kepada Allah, syafaat Rasulullah, dan hasanah dunia-akhirat.
4.  Ceramah keagamaan
Penceramah biasanya adalah ustadz ataupun tokoh masyarakat yang terkenal keluasan ilmu pengetahuan tentang agama.Biasanya ceramah dilaksanakan di dalam mesjid atau musholla yang luas, kadang jika keadaan tidak memungkinkan ceramah juga dilaksanakan di tempat terbuka seperti lapangan yang sudah diberi alas maupun tenda seadanya.

D.     Pengaruh Maulid Nabi Bagi Masyarakat
Pengaruh Maulid Nabi begitu besar salah satunya dapat membuat generasi muda lebih mengenal kepribadian Rasulullah SAW, perjuangan beliau yang penuh pelajaran untuk dipetik, dan misi yang diemban beliau dari Allah SWT kepada alam semesta. Para sahabat kerap menceritakan pribadi Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan. Salah satu contoh, perkataan Sa’d bin Abi Waqash radhiyallahu anhu, “Kami selalu mengingatkan anak-anak kami tentang peperangan yang dilakukan Rasulullah SAW, sebagaimana kami menuntun mereka menghafal satu surat dalam Al-Quran.”Ungkapan ini menjelaskan bahwa para sahabat sering menceritakan apa yang terjadi dalam perang Badar, Uhud dan lainnya, kepada anak-anak mereka, termasuk peristiwa saat perang Khandaq dan Bai’atur Ridhwan.
Maulid Nabi juga ebagai sarana umat Islam untuk berkumpul dan saling menjalin silaturahim. Masyarakat yang tadinya tidak kenal bisa jadi saling kenal; yang tadinya jauh bisa menjadi dekat. Kita pun akan lebih mengenal Nabi dengan membaca Maulid, dan tentunya berkat beliau kita juga akan lebih dekat kepada Allah SWT[3].

E.     Pengaruh Maulid Nabi Bagi Masyarakat
Pengaruh Maulid Nabi begitu besar salah satunya dapat membuat generasi muda lebih mengenal kepribadian Rasulullah SAW, perjuangan beliau yang penuh pelajaran untuk dipetik, dan misi yang diemban beliau dari Allah SWT kepada alam semesta. Para sahabat kerap menceritakan pribadi Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan. Salah satu contoh, perkataan Sa’d bin Abi Waqash radhiyallahu anhu, “Kami selalu mengingatkan anak-anak kami tentang peperangan yang dilakukan Rasulullah SAW, sebagaimana kami menuntun mereka menghafal satu surat dalam Al-Quran.”Ungkapan ini menjelaskan bahwa para sahabat sering menceritakan apa yang terjadi dalam perang Badar, Uhud dan lainnya, kepada anak-anak mereka, termasuk peristiwa saat perang Khandaq dan Bai’atur Ridhwan.











BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Maulid Nabi Muhammad SAW pada awalnya diselenggarakan untuk meningkatkan semangat juang para muslimin dan juga untuk meningktkan keimanan dan kecintaan muslim kepada nabi Muhammad SAW.
Seiring dengan perkembangan zaman dan masa perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW telah banyak mengalami perubahan. Dikarenakan dakwah islam telah meluas dan adanya adat dan istiadat yang memepengaruhi perayaan tersebut. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan suatu perbuatan yang baik selagi tidak bertentangan dengan syariat dan aqidah.

B.      Saran
Penulisan karya ilmiah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna. Penulis berharap dengan adanya pengetahuan mengenai Maulid Nabi Muhammad SAW agar umat islam tidak terpecah belah dan saling memusuhi antara satu sama lainnya, karena perbedaan dalam suatu masalah itu fitrah. Dengan adanya perbedaan tersebut kita bisa lebih toleransi dan juga bisa meningkatkan silaturrahmi antar sesama umat islam.










DAFTAR PUSTAKA
Al jaziri, Abu Bakar. 2002. Ensiklopedi Muslim. Jakarta: Darul Fatah
Daradjat, Zakiah. 1999. Dasar-Dasar Agama Islam. Jakarta: Universitas Terbuka
Daud, Ma’mun. (terj). 1993. Terjemahan Hadis Sahib Bukhari. Jakarta : Widjaya
Osman, A. Latif. 2001.Ringkasan Sejarah Islam. Jakarta:
















[1] Al jaziri, Abu Bakar. 2002. Ensiklopedi Muslim. Jakarta: Darul Fatah

[2] Daradjat, Zakiah. 1999. Dasar-Dasar Agama Islam. Jakarta: Universitas Terbuka
[3] Daud, Ma’mun. (terj). 1993. Terjemahan Hadis Sahib Bukhari. Jakarta : Widjaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar